Thursday, January 29, 2009
Oh.. Ya ampun.
Hari ini kenapa kacau lagi, ya?
Kayaknya hampir tiap saat ngisi blog ni cuma pas lagi kumat aja deh.
Acara kemarin menarik.
Tapi banyak hati tercabik.
Bahkan di dalam kesenangan juga ada kesedihan, ya?
Aku gag tau apa yang perlu ditutupin lagi sekarang ini.
Cuma dia yang ngisi segala hari, mengubah dengan seenaknya suasana hati.
Aku gatel banget mau nulis namanya.
Hei, kemungkinan besar kamu gag tau ada blog ini.
Aku ngeliat kamu ketawa kemarin.
Aku ngerasa hatiku begitu miris ngeliatnya. Seenaknya aja km ketawa-ketawa.
Seenaknya aja km mulai percakapan gag langsung dan keliatannya sikap buruk sanguinmu muncul, ya?
Astaga. Gonna crazy.
Aku minta Tuhan kekuatan, tapi sepertinya Dia berminat ngasih aku kesempatan untuk kuat, ya? JAdi sebaiknya aku minta apa?
Semua yang pernah jadi kenangan muncul seenaknya, bahkan ketika aku MC di depan sana.
Kamu berdiri tepat di depan aku, kan? Kamu bisa ketawa dan... ah.
Aku sempet blank kemarin, seketika aku gag nyadar ada yang lempar pertanyaan dan aku diem tanpa jawaban. Gara-gara siapa?
Yeah. Gag da yg boleh bilang klo semua ini konyol banget. Nulis-nulis kayak gini. Emangnya kalian gag pernah ngerasain?
Aku tau semua permasalahan terlalu sepele di mata orang lain. Apa peduliku?
Tapi aku sadar aku marah, kalau kamu bagian dari orang-orang itu.
Karena aku tahu kamu sebegitu sialannya, yang mengira kalau km benar.
Kamu terlalu ikut campur.
Aku gag akan bilang gitu kalau kamu gag dengan seenaknya nyari aku untuk bls dndm.
Kamu kan gag pernah kenal aku.
Semuanya udah lewat.
Hei, kapan tahap ini akan terlewati? Karena kamu bakal pergi.
Friday, January 23, 2009
Aku berjuang di antara ketidakpastian. Aku berpikir, jika aku melakukan sesuatu, aku akan menemukan kenyataan yang lain. Ketika aku menemukan diriku berada di hari-hari sebelumnya, ketika aku menemukan diriku singgah di alam bawah sadar, aku menyadari bahwa tak semudah itu menghapus semua yang telah terjadi.
Tak jarang aku menemukan keputusan-keputusan, dan berbagai ralat yang lain. Mungkin, yang terjadi hanyalah sebuah pembalasan belaka, aku terlalu lelah untuk mencari-cari, dan aku tahu aku akan keluar.
Aku masih tetap dalam pikiranku--bahwa mengungkapkannya adalah yang terbaik. Mungkin aku tak pernah lega dengan ini, tapi, dengan mengurai semua rangkaian kata dalam benakku, aku merasa sedikit lebih baik. Itu harapanku.
Tak ada yang terjadi setelah ini. Ketika kaki ini melangkah dan menemukan derap langkah kaki yang lain dari arah yang berlawanan. Ketika mata ini tak sengaja berpaling tanpa diperintah.
Aku menikmati segala yang terjadi. Segala kepedihan yang rasanya menguras tenaga. Aku tertawa sendiri ketika melihat diriku di waktu yang telah lewat. Aku mencintai hidup dan tak ingin menderita.
Aku tahu aku tidak menderita. Aku tahu aku mempunyai mereka yang tulus sayang mencintaiku. Aku tahu, lebih dari tahu. Semua kejadian yang berlalu di dunia ini hanya permainan, sama seperti yang kualami.
Wednesday, January 21, 2009
Sebuah hasrat tak menentu mengetuk pintu hati yang paling dalam. Berada di perasaan yang terombang-ambing membuatku ingin cepat-cepat keluar, atau pergi. Aku menyesal. Benarkah? Sepertinya tidak.
Aku tak pernah mengerti sorot mata itu. Aku tak pernah melihat ke mana dia memandang. Aku berseru dalam hati, dan kutanya haruskah aku bersikap seperti ini? Karena tak pernah. Tak pernah ada gunanya.
Friday, January 16, 2009
Diam di antara musik dan tarian,
Lelap karena buaian kasih semata,
Terpesona karena indahnya tatapan,
Hancur, karena semuanya,
Mati, karena dendam,
Luka takkan pernah sirna.
Monday, January 12, 2009
Aku tak pernah menyangka awalnya akan terasa begitu menyakitkan. Selang beberapa hari, aku terus berpikir dan menduga-duga, namun aku tak bisa menemukan jawabamnya. Kupikir, dia tak pernah mengingatnya, sementara aku, ya. Sejauh itu, aku selalu terjebak dalam rasa bingung yang tiada batasnya, dan aku merana di dalamnya.
Aq menyalahkan diriku atas segala yang telah terjadi. Aku tidak tahu mengapa semuanya seperti ini, dan mengapa dia harus berbuat seperti itu. Aku ingat dia berkata bahwa hidup itu kejam, lalu setelah kejadian itu, aku selalu membenarkan perkataannya.
Kami jarang bertemu, kami juga belum mengenal satu sama lain. Berbagai acara mempertemukan kami, membuatku bertanya-tanya, apa alasan di balik ini semua. Kupikir, dengan mengulang semua kenangan ini, kenangannya akan menguap cepat ke udara, karena aku telah menceritakannya, dan aku tak butuh kenangan itu tinggal di dalam lagi.
Aku yakin setiap orang pernah merasakan sakit hati. Dulu aku tak mengerti mengapa orang-orang harus menangis ketika merasa sakit hati, dan bingung kalau aku sendiri lebih memilih sakit hati daripada sakit gigi. Sekarang, aku mengerti alasannya.
Aku mulai merasa mencintai seseorang ketika sudah ada orang yang harus kucintai dalam hidupku. Saat itu, dia membuat hatiku penuh dengan kebimbangan, dan segala kata tanya.
Ketika aku merasa genggaman tangannya, menatap matanya, aku sadar aku memikirkan orang yang lain, yang menurutku harus kucintai itu. Tidak, aku belum berpacaran saat itu, aku hanya menjalin hubungan yang kutahu--lebih dari sebatas teman.
Begitulah, dia hadir tiba-tiba, tanpa aku kenal siapa dia, dan dia memulai hubungan kami tidak sebagai teman. Kupikir, takkan wajar jika seseorang yang tak kau kenal, memegang tanganmu, berbicara dalam jarak yang cukup dekat dengan wajahmu, dan mengenggam tanganmu lagi saat nonton film di bioskop dengan teman-teman yang lain juga.
Itulah yang dia lakukan padaku. Aku bertanya-tanya mengapa aku tidak mengelak saat dia menggenggam tanganku--aku merasa saat itu aku ingin tak peduli pada apa pun, bahwa aku membutuhkan orang ini.
Hari itu, kupikir adalah awal sekaligus akhir. Kupikir, saat itu dia tak akan maruk ke kehidupanku lagi, dan kami menjalani hari-hari sama seperti sebelumnya. Tapi ternyata tidak, aku mulai menemukan kilasan-kilasan wajahnya dalam pikiranku, dan aku semakin penasaran.
Aku tak berani--atau lebih tepatnya--aku tak mau memastikan bahwa rasa suka akan muncul secepat itu padahal dia belum mengenal aku sama sekali.
Aku tak pernah mengaku suka pada siapa pun, tapi aku tahu aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Lalu, kejadian yang sama terulang lagi--tapi kali ini jauh lebih pasti, dan aku tak berani mengira itu kebetulan saja.
Aku merasakan detak jantungku semakin cepat ketika aku menemukan sorot matanya. Aku mulai memikirkannya walau aku melarang diriku. Aku menginginkan waktu yang lebih lama bersamanya, selama apa pun itu.
Aku menyukai segala cara dan apa pun yang dia lakukan. Kuputuskan, bahwa aku menyukainya. Aku tidak mau meneruskan kejanggalan ini tanpa menanyakan apa sebabnya.
Tapi ketika aku mulai bertanya 'kenapa', segala hal yang di luar perkiraanku, muncul ke permukaan. Dia bilang padaku bahwa perlakuannya selama ini hanyalah semacam perbuatan balas dendam. Dia juga bilang kalau dirinya telah kalah, dan aku menang--aku sama sekali tidak mengerti apa maksudnya.
Ketika mengetahui jawaban itu, aku tak bisa menemukan di mana diriku berada. Hatiku begitu kalut dan aku masih setengah mati penasaran. Tapi aku tahu, aku tak pernah menemukan jawabannya--hingga kini.
Aku menemukan diriku di antara batas sadar atau tidak, beberapa minggu setelahnya. Teman-temanku bertanya apa yang dia lakukan padaku dan mengapa aku harus rapuh seperti ini.
Aku sendiri tak tahu. Aku menolak untuk bercerita karena aku tahu, semakin banyak aku mengulang, aku akan merasa semakin tidak lebih baik. Aku menginginkan penyelesaian dan balas dendam lagi, tapi itu tidak mungkin.
Aku merasa bahwa dia tidak benar-benar balas dendam, karena dia tidak mau berusaha menyakitiku lebih dalam lagi. Hari-hari itu aku menertawakan semua yang telah terjadi, aku begitu kacau dan aku tak tahu kenapa cinta mengatur hidup seseorang.
Hari ini, kuputuskan untuk memaafkannya.



